"kita selalu diberi kesempatan untuk menoleh ke belakang, memeriksa apa saja yang pernah kita lakukan dan putuskan. Tetapi bukan untuk kembali. Waktu tak bisa diulang dan hidup tak bisa ditegakkan dengan kata 'seharusnya' atau 'semestinya', kan? Apa yang 'seharusnya' hanyalah bayang-bayang yang nisbi, sementara apa yang ada di hadapan kita dan sedang kita jalani adalah kenyataan yang pasti. Maka hiduplah dalam kenyataan : apa yang telah terjadi barangkali memang harus terjadi dan tak pernah ada manusia yang sanggup lolos dari hisapan lubang hitam kesalahan." Tulisan Fahd selalu indah & mengena. Filosofis, namun tetap dg gaya bahasa yg 'muda'. Sayang, bagi saya, "Perjalanan Rasa" tak seindah & semenohok "A Cat In My Eyes" dan "Curhat Setan". Barangkali bukan murni karena isinya, hanya saja, sebelum membacanya di buku, ada beberapa tulisan yg sudah dipost terlebih dahulu oleh Fahd di blog pribadinya. Mengurangi 'nilai' surprise, mungkin.Saran untuk Fahd, sepertinya akan lebih baik bila selanjutnya Fahd menentukan terlebih dahulu, karya mana yg akan ia pilih untuk diterbitkan dalam buku, dan yg mana yg akan dipost melalui blog pribadinya. Sehingga ada eksklusifitas, dan mengurangi efek 'de ja vu' dalam pembacaan karya-karyanya. Hingga akan makin terasalah lecutan-lecutan rasa tertohok, surprise, kagum, & termangu dalam hati, pasca membaca terbitan buku terbarunya. Anw, sukses terus untuk Fahd! I'm waiting for the next masterpiece.
What do You think about Perjalanan Rasa (2012)?
Dibuka oleh Mama, ditutup dengan Ayah. :)Kumpulan tulisan pengernyit dahi, bagi saya.hahaha
—loveforlioncourt
So poetic, reminds me of one particular person :)
—Domino1
Mari menulis Perjalanan Rasa kita masing-masing.
—Jade